Lomba Desa Wisata 2025, Bukan Hanya Sekadar Kompetisi Tapi Sebagai Ajang Kolaborasi
visitciamis.id Kabupaten Ciamis memiliki berbagai keindahan alam, aneka ragam budaya, dan berbagai produk ekonomi kreatif lokal yang tersebar di Desa Wisata Ciamis.
Dari semua itu, maka desa wisata dituntut untuk mencari potensi yang dimiliki, sehingga mudah dikenal oleh wisatawan.

Namun potensi itu tidak akan berkembang sendiri, sehingga diperlukannya tangan-tangan yang siap bekerja bersama. Misalnya, pemuda desa bisa mengelola media sosial.
Sehingga Mereka bisa membuat konten kreatif dan juga membantu promosi desa wisata dengan konten-konten yang dibuat tersebut.
Oleh karna itu, Terciptalah Lomba Desa Wisata Tahun 2025 dengan tema ” Ngabuhun silih rarangken, ngawangun karaharjaan desa wisata di Kabupaten Ciamis”
Lomba ini memiliki tujuan untuk mengkolaborasikan berbagai elemen dan stakeholder terkait, seperti Akademisi, Praktisi budaya, Pengamat lingkungan, Media, dan Penggerak Ekonomi Kreatif.
Akademisi memegang peran penting dari perguruan tinggi, Kolaborasi dengan akademisi menghadirkan pendekatan berbasis riset.
Akademisi membantu menyusun strategi promosi yang tepat sasaran dan memberi pelatihan untuk desa tentang manajemen pariwisata dan tata kelolanya.
” saya berharap kolaborasi antar pihak bisa berjalan dengan baik, karna dengan kolaborasi merupakan kunci sukses untuk berjalannya desa wisata” Ucap Dr. H Asep Nurwanda S.H M.Si sebagai salah satu juri dengan kategori kolaborasi terbaik.
Peran Media tidak kalah penting, mereka meliput perjalanan desa-desa peserta lomba sejak tahap persiapan.
Berita yang mereka tulis memunculkan semangat publik, sehingga membuat potensi desa lebih dikenal secara luas.
” Ciamis memiliki berbagai potensi yang harus dicari, maka dari itu kita akan bantu dalam pengembangan media digitalnya agar bisa lebih dikenal secara luas”. Ucap Yosep Sutrisna sebagai salah satu juri dengan kategori Terinovatif.
Sementara itu, Praktisi budaya berperan menjaga identitas lokal. Dalam setiap lomba desa wisata, aspek budaya selalu menjadi sorotan utama.
Mereka mengajarkan cara menampilkan tari, musik, dan ritual adat dengan nuansa profesional namun tetap otentik.
Bahkan beberapa desa telah menyiapkan pertunjukan yang menggabungkan seni tari, musik gamelan, dan narasi sejarah lokal.
Pengamat lingkungan turut memberi kontribusi nyata, mereka mengingatkan agar lomba desa wisata tidak sekadar mengejar estetika, akan tetapi bagaimana mengelola agar desa wisata tetap asri.
Pengelolaan sampah, kelestarian sungai, dan konservasi lahan menjadi bagian penting. Beberapa desa peserta bahkan mulai menerapkan prinsip Green Tourism.
Sementara itu, Penggerak ekonomi kreatif (ekraf) membawa energi baru. Mereka mengajarkan cara mengemas produk lokal agar lebih bernilai jual.
Desa Wisata diberikan masukan agar produk ekraf dapat diberikan sentuhan desain modern, sehingga mampu memiliki value yang meningkat dan mampu bersaing di pasarnya.
Mereka mengajak anak muda untuk membuat konten digital, bahkan terdapat beberapa desa yang telah meluncurkan suvenir khas desa wisata dengan desain yang kekinian.
